Sajak Tak Terbaca

By
Advertisement

Isyarat Musim
Kepada Sahabat Irma Senja

dan pada setiap hujan yang runtuh di pintu-pintu jantungmu
adalah isyarat musim yang melengking dari riuh sunyi
mungkin kemarau
atau barangkali dingin matahari
bersaksi atas nama air mata

senyum yang kau susun pada gugusan senja
adalah huruf-huruf kelu
rubuh ke tanah bersama tawa yang bertahun-tahun kau timbun
pada sebongkah embun
sebelum siang mencurinya dari dahan-dahan luka menahun di tubuhmu

paragraf-paragraf yang mengalir di setiap sudut bibirmu
adalah nyanyian air yang senantiasa berzikir
diam
seriuh tawa si kecil bertembang hujan di beranda halaman

teruslah menulis, senja?
sebelum huruf menjadi tua
atau sebelum aku berangkat
mencari doa-doa paling mujarab
agar alam sudi mengecap
isyarat musim yang tak terbaca

Purwokerto, menjelang siang beranjak, 2013

Semacam Epilog

"Menulislah dari hatimu,maka kau akan menyentuh hati pembacamu". Demikian katanya dalam profil blognya. Dan aku pun tersentuh. Betapa tidak, coba baca tulisan “Ketika Aku Bicara Pada Hujan di 11 Februari”. Tersirat dan tersurat jelas bahwa tulisan tersebut merupakan bentuk kepasrahan si penulis kepada Tuhan melalui media hujan. Dari sana saya memahami bahwa meski terlihat cantik ragawi laiknya perempuan-perempuan lain, namun sejatinya si penulis ini tidak seperti kelihatannya. Kanker telah menjadi “sahabat” akrab yang sesekali dapat menjadi “musuh” dalam hidupnya. Atau bacalah tulisan hati “Surat Untuk Tiara”. Berbentuk surat kepada Tiara yang berkisah tentang rasa kepercayaan diri bahwa meski si penulis berbaring di salah satu bangsal rumah sakit, namun ia merasa baik-baik saja. Keyakinan, rasa percaya diri, dan doa inilah yang telah membuat si penulis ini menjadi begitu tegar dengan sebenar-benarnya meski dengan segala keterbatasannya.

Ya, dialah Irma Senja. Melalui blog pribadinya di www.irmasenja.com ia hendak berkabar pada dunia khususnya pada sesama penderita kanker bahwa menerima dan hidup dengan apapun kepahitan dan ujian adalah bukan kekalahan, tapi kemenangan sebenarnya.
“Teruslah menulis sahabat?”  
  

11 comments:

  1. Dear Sahabat,.....

    Gak tahu harus bilang apa, mungkin aku memilih menjadi senyum yang paling teduh untuk membalas betapa catatan hatimu begitu indah,...
    Hingga meluruhkan dua aliran kecil disudut mataku.

    Atau menjadi temaram langit senja, yang sekilas menampilkan keindahan warna tembaganya. Betapa rasa terima kasihku yang terdalam.

    Bahasaku adalah paragraf,...
    kadang begitu nyeri hingga catatanku menjadi biru.
    Tapi riangku juga puisi, yang pada bait dan rima menjadi asa dan doa yang terus terbang ke angkasa.
    Karena DIA yang menggerakkan iman di dadaku,
    juga karena penghiburan-penghiburan hebat sepertimu dan sahabat lainnya.

    Kadang aku bertanya, " kelak seperti apa aku di kenang ? "
    Kadang takut dan putus asa, tapi terkadang aku tahu aku akan hidup lebih lama.

    Karena hidup adalah rahasia , tak terbaca olah kaca mata manusia.
    Aku pasien kanker kanker,...sejak 10 tahun lalu.
    Aku mengalami remisi berulang kali, bahkan nyaris tertipu dan tumbuh lagi.

    Tapi aku masih disini,...dan aku tahu, esok dan nanti aku masih disini. Sekedar memberimu senyum atau memaksamu membaca pargarf demi paragraf catatan senja.....

    i'm survivor indeed ;)

    ReplyDelete
  2. bagus banget mas.... maju terus...

    ReplyDelete
  3. sumpah ane gk bs bikin kyk gini
    mw nanya bedanya sajak ama puisi itu apa? komen back y

    ReplyDelete
  4. Saling menguatkan, itulah tema besar dari sebuah persahabatan. Semoga sajak teruntuknya menjadi kekuatan :)

    ReplyDelete
  5. @IrmaSenjaterima kasih atas postingan di blogmu mba, telah melahirkan puisi di atas..ah mungkin bukan puisi..

    ReplyDelete