Kepada Si Jabang Bayi

By // 8 comments:
Prolog Ah, rupanya ada tamu di malam Jum’at Kliwon. Ia mengetuk-ngetuk pintu rumah pukul sebelas malam. Saya dan istri bukannya tidak mendengar atau tidak mau membukakan pintu untuk si tamu. Akan tetapi, kami tidak sanggup memaksa alam. Sebab, tamu yang mengetuk pintu rumah kami, adalah utusan alam. Karena itu, sekedar untuk membuka pintu, kami serahkan kepada Tuhan. Dan, rupanya Tuhan tidak terlelap meski waktu sudah menunjukan tengara pukul dua pagi. Tepat setelah hujan berganti gerimis, kami pun bisa memandang secara utuh, bentuk dan wujud tamu si utusan alam. Ah, perempuan rupanya. Cantik. Cantik sekali. Sungguh! Matanya sipit laiknya mata-mata si empunya Sakura. Bibirnya tipis serupa bibir penduduk negeri tirai bambu. Lesung pipinya,...

Sajak Monolog Bagi Pemuja Kopi

By // 11 comments:
Lalu bagimana jadinya jika secangkir kopi yang selama ini senantiasa setia menemaniku merangkai puisi, tiba-tiba menghiba kepadaku untuk menggantikan posisinya. Aku pun terkejut. Bagaimana mungkin kopi-kopi yang telah ku sedu kemudian melompat-lompat dan memintaku menjadi kopi? Hah, ada-ada saja. Akhirnya, dengan hati yang berat aku pun bersedia menjadi kopi, menemaninya merangkai puisi. Pertama-tama tubuhku menjadi bubuk kopi. Lalu aku dimasukan ke dalam cangkir. Kemudian sesendok dua sendok gula pasir mengubur tubuhku. Setelah itu air panas mengguyur tubuhku. Lantas aku dan gula pasir diaduk bersama air tungku yang mendidih. Jadilah aku secangkir kopi yang beraroma menahan kantuk dan rayuan bantal. Begitu seterusnya selama bermalam-malam....

Semoga Tuhan Membaca Puisi Ini

By // 5 comments:
Mukadimmah Adakah yang paling menyakitkan ketimbang merasakan segenap keasingan yang tiba-tiba menyergap? Katakan kepada ku apa yang paling membuat kita mabuk ketimbang kehilangan kekasih yang dengan susah payah kita rayu?. Aku benar-benar khilangan kawan? Tongkat yang semestinya ku jadikan mata jalan raib dihempas badai gurun. Jadilah aku seorang musafir yang tak tahu kemana arah angin berhembus. Hanya pada sebentuk puisi saja brangkali, aku mencoba kembali membenarkan langkah kaki yang terseok-seok. Membetulkan ingatan yang tiba-tiba bengkok oleh bujuk rayu keramaian dunia. Berharap agar Tuhan menjadi ramah bagi tubuh dan fikiranku sebelum Dia membenci lantas menagih nyawa dari kerangkeng tulang-tulang jasadku. Dan, inilah gugusan...

Makrifat Sunyi

By // 16 comments:
Pembuka Lagi, dan lagi-lagi, aku seperti hidup terkurung dalam gua yang memantulkan suara-suara imitasi. Banyak suara berlalu-lalang di segenap stalagtit, dan jatuh di hamparan stalagmit gua, namun hakekatnya itu hanya suara saya sendiri. Plato pernah menyinggung tentang pantulan suara gua dalam rangka menguak sejatinya realitas hidup. Mungkin hanya kebetulan saja jika kemudian, saya menjadi bagian manusia yang hidup di zaman serba keramaian seperti sekarang ini (orang-orang menyebutnya zaman kemajuan. Saya menamainya zaman kemunduran). Maka menjadi wajar jika di dunia yang penuh hiruk-pikuk ini, kita atau katakanlah saya sendiri menjadi asing dengan segenap realitas yang jika mau jujur, itu hanyalah realitas semu belaka. Saya tidak sedang...
Meet The Author

I'm Chandeep J, An 18 years old blogger Currently living in Tamil Nadu, India. I'm a Skilled Blogger, web Developer and Loves to play with Codes And Creating new things as a web Designer.

author