Prolog
Ah, rupanya ada tamu di malam Jum’at Kliwon. Ia
mengetuk-ngetuk pintu rumah pukul sebelas malam. Saya dan istri bukannya tidak
mendengar atau tidak mau membukakan pintu untuk si tamu. Akan tetapi, kami
tidak sanggup memaksa alam. Sebab, tamu yang mengetuk pintu rumah kami, adalah
utusan alam. Karena itu, sekedar untuk membuka pintu, kami serahkan kepada
Tuhan. Dan, rupanya Tuhan tidak terlelap meski waktu sudah menunjukan tengara
pukul dua pagi. Tepat setelah hujan berganti gerimis, kami pun bisa memandang
secara utuh, bentuk dan wujud tamu si utusan alam.
Ah, perempuan rupanya. Cantik. Cantik sekali.
Sungguh! Matanya sipit laiknya mata-mata si empunya Sakura. Bibirnya tipis
serupa bibir penduduk negeri tirai bambu. Lesung pipinya,...
Sajak Monolog Bagi Pemuja Kopi
Lalu bagimana jadinya jika secangkir kopi yang
selama ini senantiasa setia menemaniku merangkai puisi, tiba-tiba menghiba
kepadaku untuk menggantikan posisinya. Aku pun terkejut. Bagaimana mungkin
kopi-kopi yang telah ku sedu kemudian melompat-lompat dan memintaku menjadi
kopi? Hah, ada-ada saja. Akhirnya, dengan hati yang berat aku pun bersedia
menjadi kopi, menemaninya merangkai puisi.
Pertama-tama tubuhku menjadi bubuk kopi. Lalu aku
dimasukan ke dalam cangkir. Kemudian sesendok dua sendok gula pasir mengubur
tubuhku. Setelah itu air panas mengguyur tubuhku. Lantas aku dan gula pasir
diaduk bersama air tungku yang mendidih. Jadilah aku secangkir kopi yang
beraroma menahan kantuk dan rayuan bantal. Begitu seterusnya selama
bermalam-malam....
Semoga Tuhan Membaca Puisi Ini
Mukadimmah
Adakah yang paling menyakitkan ketimbang merasakan segenap
keasingan yang tiba-tiba menyergap? Katakan kepada ku apa yang paling membuat
kita mabuk ketimbang kehilangan kekasih yang dengan susah payah kita rayu?. Aku
benar-benar khilangan kawan? Tongkat yang semestinya ku jadikan mata jalan raib
dihempas badai gurun. Jadilah aku seorang musafir yang tak tahu kemana arah angin
berhembus.
Hanya pada sebentuk puisi saja brangkali, aku
mencoba kembali membenarkan langkah kaki yang terseok-seok. Membetulkan ingatan
yang tiba-tiba bengkok oleh bujuk rayu keramaian dunia. Berharap agar Tuhan
menjadi ramah bagi tubuh dan fikiranku sebelum Dia membenci lantas menagih
nyawa dari kerangkeng tulang-tulang jasadku. Dan, inilah gugusan...
Makrifat Sunyi
Pembuka
Lagi, dan lagi-lagi, aku seperti hidup terkurung
dalam gua yang memantulkan suara-suara imitasi. Banyak suara berlalu-lalang di
segenap stalagtit, dan jatuh di hamparan stalagmit gua, namun hakekatnya itu
hanya suara saya sendiri. Plato pernah menyinggung tentang pantulan suara gua
dalam rangka menguak sejatinya realitas hidup. Mungkin hanya kebetulan saja
jika kemudian, saya menjadi bagian manusia yang hidup di zaman serba keramaian
seperti sekarang ini (orang-orang menyebutnya zaman kemajuan. Saya menamainya
zaman kemunduran).
Maka menjadi wajar jika di dunia yang penuh
hiruk-pikuk ini, kita atau katakanlah saya sendiri menjadi asing dengan segenap
realitas yang jika mau jujur, itu hanyalah realitas semu belaka. Saya tidak
sedang...