Kepada Si Jabang Bayi

By // 8 comments:

Prolog

Ah, rupanya ada tamu di malam Jum’at Kliwon. Ia mengetuk-ngetuk pintu rumah pukul sebelas malam. Saya dan istri bukannya tidak mendengar atau tidak mau membukakan pintu untuk si tamu. Akan tetapi, kami tidak sanggup memaksa alam. Sebab, tamu yang mengetuk pintu rumah kami, adalah utusan alam. Karena itu, sekedar untuk membuka pintu, kami serahkan kepada Tuhan. Dan, rupanya Tuhan tidak terlelap meski waktu sudah menunjukan tengara pukul dua pagi. Tepat setelah hujan berganti gerimis, kami pun bisa memandang secara utuh, bentuk dan wujud tamu si utusan alam.

Ah, perempuan rupanya. Cantik. Cantik sekali. Sungguh! Matanya sipit laiknya mata-mata si empunya Sakura. Bibirnya tipis serupa bibir penduduk negeri tirai bambu. Lesung pipinya, persis seperti lesung pipit rakyat Mahatma Gandhi. Hidungnya, sebentuk gunung separuh, laiknya gunung-gunung di negeri para mafia, Indonesia. Tapi, tidak! Betapapun, kami tetap menyilahkan si tamu jatuh dalam peluk dan gendongan kami. Ya, dialah si jabang bayi, buah hati kami yang kedua. Setelah adzan dan iqomat selesai lirih berkumandang di telinga kiri dan kanan, seketika itu pula dari ujung tuts laptop rusak ini, lahir beberapa baris, yang dengan percaya diri saya sebut puisi. Puisi ini lahir dari keberadaan si tamu di rumah kami, ketika kami tengah asyik menyimak monolog kopi yang sepertinya sudah mulai dingin. Dan, inilah bentuk susunan kata-kata yang saya sebut puisi untuk si jabang bayi itu.

Si Jabang Bayi
Dedicated to Nabila Sastra Shakeela

Inilah aku, bapa, si jabang bayi
Si jabang bayi, bapa?
Si jabang bayi

Ini rupaku, bapa, rupaku
Tembangkan kepada langit pagi, bapa?
Tentang mata sipit anak-anak Tar-Tar
Tentang lesung pipit papa Mahatma Gandhi
Atau tentang kulit tubuh si tuan Sakura

Ini tangisku, bapa, tangisanku
Ceritakan pada dunia, bapa?
Sebentuk jasad yang terkurung waktu sembilan bulan
Sebujur tubuh yang kerap kau sembur dengan mantera semacam doa
Bagi harapan yang jelas terbaca dari sudut palung dadamu yang paling gelisah

Ah, bapa, bapa!
Segeralah kau sembur kedua telingaku
Dengan azan dan iqomah yang sempat kau lupakan
Sebelum subuh mempermalukanmu di mata alam

Lihatlah, bapa?
Hujan telah berganti gerimis
Dan gelap sebentar lagi selesai bersetubuh dengan malam
Sambutlah matahari yang kehausan
Embun dan sebait puisi
Serta sesosok tamu yang kau tunggu dengan lelah berkepanjangan

Ini aku, bapa, anakmu
Anakmu, bapa?
Anakmu!

Purbalingga, 31 Mei 2013 usai hujan berhenti menangis

    

Sajak Monolog Bagi Pemuja Kopi

By // 11 comments:

Lalu bagimana jadinya jika secangkir kopi yang selama ini senantiasa setia menemaniku merangkai puisi, tiba-tiba menghiba kepadaku untuk menggantikan posisinya. Aku pun terkejut. Bagaimana mungkin kopi-kopi yang telah ku sedu kemudian melompat-lompat dan memintaku menjadi kopi? Hah, ada-ada saja. Akhirnya, dengan hati yang berat aku pun bersedia menjadi kopi, menemaninya merangkai puisi.

Pertama-tama tubuhku menjadi bubuk kopi. Lalu aku dimasukan ke dalam cangkir. Kemudian sesendok dua sendok gula pasir mengubur tubuhku. Setelah itu air panas mengguyur tubuhku. Lantas aku dan gula pasir diaduk bersama air tungku yang mendidih. Jadilah aku secangkir kopi yang beraroma menahan kantuk dan rayuan bantal. Begitu seterusnya selama bermalam-malam. Tak ku sangka tak ku duga, menjadi kopi adalah juga menjadi bagian hidup yang paling bersahaja.   Ia tak pernah protes kepada hidup. Tak pernah mengeluh meski harus lebur karena air panas, serta senantiasa menjadi benda yang paling setia menemani tuannya. Dan inilah pengalamanku selama aku menjadi secangkir kopi.

Monolog Secangkir Kopi
Buat Para Penikmat Kopi

maka inilah aku yang dikutuk takdir menjadi sebiji kopi
mengecap lidah pada setiap jejak tengara waktu
manis dan pahit bertubrukan
di antara denting sendok dan beling

tubuhku legam, hangat, sesekali mendidih matahari
menjaga mata dari kantuk dan bantal
asin keringatku menyulap malam menjadi sebatang siang
menyihir siang menjadi arang
bagi mata-mata yang sungkan terpejam

seperti bujur jasadku yang legam, aku tak pernah mengenal huruf untuk mengeja takdir. Atau tak sempat akrab dengan segumpal tanya kenapa aku mesti harus menjadi kopi  
seperti gula pasir yang senantiasa manis dalam setiap pahit. takzim membaca suratan garis-garis tangan tanpa tanda tanya.

aku hanya mengenal angka satu, dua, atau setengah sendok
hingga aroma tubuh telanjangku pas disedu
bagi pemuja malam dengan segenap birahi di ujung dentum gelas dan cangkir  

Purbalingga, 29 Maret 2013 


Semoga Tuhan Membaca Puisi Ini

By // 5 comments:

Mukadimmah

Adakah yang paling menyakitkan ketimbang merasakan segenap keasingan yang tiba-tiba menyergap? Katakan kepada ku apa yang paling membuat kita mabuk ketimbang kehilangan kekasih yang dengan susah payah kita rayu?. Aku benar-benar khilangan kawan? Tongkat yang semestinya ku jadikan mata jalan raib dihempas badai gurun. Jadilah aku seorang musafir yang tak tahu kemana arah angin berhembus.

Hanya pada sebentuk puisi saja brangkali, aku mencoba kembali membenarkan langkah kaki yang terseok-seok. Membetulkan ingatan yang tiba-tiba bengkok oleh bujuk rayu keramaian dunia. Berharap agar Tuhan menjadi ramah bagi tubuh dan fikiranku sebelum Dia membenci lantas menagih nyawa dari kerangkeng tulang-tulang jasadku. Dan, inilah gugusan kata-kata rayuan yang ku susun dengan segenap harap agar Tuhan sudi mengampuni segala dosa-dosaku.
     

Kasidah Batu Kali

I
sejak semula akulah kasidah batu kali itu
sumbang dan penuh sangsi
memintal sajak bagi daun-daun liar yang runtuh dari kesilaman silsilah
ikan-ikan bernyanyi lagu wirid. sesekali, arus kali tenang mengamini

sejak semula akulah kasidah batu kali itu
melantunkan lagu anggur dan vodka
pada setiap perjamuan-perjamuan di rumah Tuhan, di mana tarian-tarian mabuk kerap melahirkan ayat-ayat beraroma getir

seseorang mengukir suara di ujung toa, merasa nadanya persis nada Tuhan yang ku akrabi hingga tulang sumsumnya. padahal, ia tengah menyanyikan lagu ganjil dikedalaman telinga para tetamu yang tengah dijamu Tuhan

sejak semula akulah kasidah batu kali itu
mabuk dan tersungkur jatuh
menggenapi sembilan puluh sembilan arus nama Mu yang menderas di ceruk jantungku

2
aku masih saja menjadi kasidah batu kali itu setelah ku arungi keluasan samudra yang kau hentangkan pada selembar buku suci. ku tabung segala kata warisan nenek moyang. agar lidahku takzim memainkan nama Mu pada setiap permulaan lima waktu. agar langit tak kembali tuli. bagi doa-doa yang ku panjati dengan diam.

namun mata Mu menjadi asing. sketsa wajah yang ku lukis dengan tinta darah nadi Mu menjadi buram. nama-nama yang ku hafal dengan asin keringat tasbih di sepertiga malam ku pun runtuh ke tanah. redam terhempas badai keramaian

kini tubuhku sekarat. meski aku masih menjadi kasidah batu kali itu.
jasad dengan dada bara api. pucat dilumat zaman yang semakin menjauh dari tubuh Mu. Lantas dapatkah ku teguk kembali anggur dan vodka yang ku peras dari dada langit Mu?
agar kita dapat mabuk, dan menari intim sepanjang malam perjamuan di rumah sunyi Mu?

 Purbalingga, 21 Maret 2013



Makrifat Sunyi

By // 16 comments:

Pembuka

Lagi, dan lagi-lagi, aku seperti hidup terkurung dalam gua yang memantulkan suara-suara imitasi. Banyak suara berlalu-lalang di segenap stalagtit, dan jatuh di hamparan stalagmit gua, namun hakekatnya itu hanya suara saya sendiri. Plato pernah menyinggung tentang pantulan suara gua dalam rangka menguak sejatinya realitas hidup. Mungkin hanya kebetulan saja jika kemudian, saya menjadi bagian manusia yang hidup di zaman serba keramaian seperti sekarang ini (orang-orang menyebutnya zaman kemajuan. Saya menamainya zaman kemunduran).

Maka menjadi wajar jika di dunia yang penuh hiruk-pikuk ini, kita atau katakanlah saya sendiri menjadi asing dengan segenap realitas yang jika mau jujur, itu hanyalah realitas semu belaka. Saya tidak sedang menjadi nabi atau sang penjaga moral yang kerap berkhutbah di mimbar-mimbar masjid dengan tema yang itu-itu saja. Saya hanya sedang bertanya, akan dan terus ingin bertanya pada apapun yang sekiranya dapat menjawab kegelisahan-kegelisahan yang tersirat ataupun tersurat pada susunan kata-kata yang dengan penuh egois dan kesombongan, saya sebut puisi.

Seperti dua puisi di bawah ini, saya menuliskannya ketika saya membaca kisah-kisah kematian yang tak pernah ketinggalan pada menu sajian hidup kita di Koran-koran. Beberapa menit yang lalu mereka saling berpelukan dan bertegur sapa, tapi beberapa detik berikutnya salah satu ada yang mati. Maut memang tak pernah punya rasa belas kasihan. Persis zaman yang sedang bergerak mudur ini.

Yang kedua, cobalah sesekali masuk dan berdiri di tengah-tengah pasar tradisional. Dengarlah suara-suara yang menembus ke telinga kita. Bukankah suara-suara di tengah pasar itu saling bertabrakan, riuh, dan sulit untuk dipahami makna dan maksudnya? Dan bayangkanlah jika sekejap saja suara-suara itu diam dan terhenti. Adakah sobat akan memahami suara-suara yang mendadak diam itu? Mari kita baca bersama…   

Menaksir Hitungan Maut

aku sedang menaksir hitungan maut di tanganku sendiri
ku baca dengan seksama
setiap nafas yang berhembus pada gigil garis-garisnya
ku tabung dengan rapi
sengkurat jejaknya yang luput ku kecap

angin melolong
di tepian ngarai waktu yang tengah memburu jantungku
parau,
bagai embun yang gagal mengenang daun-daun pagi

aku yang masih menaksir hitungan maut
sesekali jatuh di kesenyapan dingin bibirmu
bilangan-bilangan tak bernama
tersungkur di setiap pucuk-pucuk jari

asin keringatmu menyulut api
membakar dingin subuh yang mengendap di lidahku
tungku yang ku tinggalkan bertahun-tahun
menunggu giliran mati sewaktu-waktu

aku yang terus menaksir maut di dadaku
lunglai,
menangkup gambar sunyi wajah Tuhan
lelah tak berkesudahan

gending tangis masa lalu berdesingan
menikam hening paling malam di kepalaku
gagap di tengah medan tempur
antara maju atau mundur
menghitung maut di pelukan

Purbalingga, 15 Maret 2013, ketika ingin melihat wajah maut


Pasar

ada yang pecah di dasar telinga
huruf-huruf riuh di tengah pasar
melengking
menikam lorong jantung paling dalam

kata-kata bertabrakan
di serambi warung dan los-los pasar
aku yang limbung
disayat helai sunyi daun-daun bawang
berjajar di tepian pisau nasib yang menajam

bayar dan ambillah
sebab kami adalah barang yang asing dengan diri kami sendiri

juga suara-suara yang bergegas itu

hilir tak bertepi
muara yang dikutuk jadi penanti

ku jadikan bising pasar
menjadi sebentuk sunyi paling tersembunyi
bagi kembara para nabi-nabi

Purbalingga, 17 Maret 2013 Ketika Berada di tengah pasar Bobotsari



Sepotong Sajak Getir Buat Istriku

By // 7 comments:

Prolog

Bahwa hidup itu sejatinya tak semudah seperti apa yang dipaparkan dalam sebentuk teori. Ia adalah rahasia yang tak mudah untuk ditebak atau bahkan dilukis sejak manusia masih berada di dalam kandungan. Apa-apa yang dituangkan dan ditayangkan serta di khutbahkan dalam setiap ibadah, tak lain hanyalah cara bagi si pengkutbah untuk melanjutkan atau bertahan hidup. Nasib dan takdir telah digariskan pada setiap garis tangan manusia. Tertawalah karena mungkin hari ini nasib berwajah ramah. Maka menangislah karena mungkin takdir luput kita baca esok hari.

Lantas apa yang mesti kita ejawantahkan istriku? Apakah sebentuk puisi ini juga adalah salah satu takdir yang di gariskan ditangan kita? Ooh…andai Tuhan memberikan apa yang kita minta, bukan memberikan apa yang kita butuhkan, maka aku tidak akan menuliskan sebentuk sajak di bawah ini. Tetapi Tuhan adalah Tuhan, dan kita hanya manusia. Karena itu istriku, simaklah nyanyian puisi sumbang yang lahir dari getir langit-langit jantungku…


Tetapi Inilah Hidup, Istriku?
bagi istriku

tetapi inilah hidup, istriku?
sepuluh jari tangan kita takkan mampu menghitung gugusan bintang
meski ingatan begitu sempurna membaca
desau angin yang berderit lewat jendela

kita pernah belajar pada alam
sebait doa yang lahir dari ladang tandus
sebelum gerimis melumat aroma debu yang kita sanjung

tetapi inilah hidup, istriku?
sering kali ia sungkan berkata jujur pada dirinya
seperti yang pernah kita susun di atas pasir telanjang
dan musnah ditelan ombak seketika

tetapi inilah hidup, istriku?
senyum dan hujan adalah bunga-bunga
yang kita siram ketika pagi menghampiri
lalu layu seketika dilumat matahari

lantas apa lagi, istriku?
selain takdir yang tak bisa kita tawar
meski doa kerap kita hamburkan ke udara
namun sepertinya langit tengah tuli
dan halaman-halaman buku kita kian berkurang
: tetapi inilah hidup, istriku?

 Purwokerto, 13 Maret 2013

Semacam Puisi Untuk Sahabat

By // 6 comments:

Pra Kata

Saya punya seorang teman bernama Kang +Suratno Kenthus. Seorang blogger asli Gandrung, Cilacap. Suatu hari dia bertanya; “Mana puisi-puisimu tentang elektronika?”. Aku pun menjawab; “Tunggu saja kang, pasti segera dapat dibaca”. Maklumlah, blogger yang satu ini punya hobi utak-atik barang yang berbau listrik dan elektronika, dan dituangkan di blogelektronikadi.blogspot.com, sekaligus sebagai ruang kerjanya.

Saya bukan seorang penyair. Bukan pula seorang sastrawan. Sekali lagi, bukan sama sekali. Saya hanya pecinta kata-kata. Merangkainya, lalu ku susun dalam bentuk puisi. Itu pun yang berkait dengan sosial humaniora. Memenuhi tantangan kang Suratno Kenthus (tapi saya percaya orangnya tidak kementhus) adalah hal yang baru. Sekaligus sangat kesulitan menyusuk kata-kata menjadi sebentuk puisi dengan tema eksak semacam listrik, solder, ataupun resistor (karena, dalam sejarah pelajaran matematika, saya selalu mendapat nilai dua).

Lalu saya bertanya pada Mba Wikipedia. Bertemulah saya dengan Georg Simon Ohm (saya yakin Kang Suratno Kenthus paham betul tokoh yang satu ini). Ya, menurut Mbak Wikipedia, Georg Simon Ohm adalah seorang fisikawan Jerman yang banyak mengemukakan teori di bidang elektrisitas. Karya fenomenalnya adalah teori mengenai hubungan antara aliran listrik, tegangan, dan tahanan konduktor di dalam sirkuit, yang umum disebut Hukum Ohm.

Masih menurut Mbak Wikipedia, Georg Ohm dilahirkan oleh pasangan Johann Wolfgang Ohm, seorang tukang kunci, dan Maria Elizabeth Beck, seorang penjahit. Walaupun ayahnya hanya sebagai tukang kunci, namun dia mampu memberikan pendidikan yang tinggi bagi anak-anaknya. Pada tahun 1805, Ohm masuk ke Universitas Erlangen namun keluar di semester ketiga dan kemudian menjadi pengajar matematika di sekolah Gottstadt bei Nydaud, Swiss. Pada Maret 1809 ia menjadi guru privat di Neuchâtel. Atas nasihat dari Karl Christian von Langsdorf, dia kembali melanjutkan studi di bidang matematika dan pada April 1811, dia kembali ke Universitas Erlangen.

Pada 25 Oktober 1811, Ohm memperoleh gelar doktor di bidang matematika dari Erlangen dan bergabung sebagai staf dosen matematika. Menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak memiliki prospek bagus, maka dia meninggalkan pekerjaan tersebut dan menerima tawaran pemerintah Bavaria sebagai guru matematika dan fisika di sebuah sekolah berkualitas rendah di Bamberg pada Januari 1813. Pada Februari 1816, sekolah tersebut ditutup dan pemerintah Bavaria mengirimnya ke sekolah yang penuh sesak di Bamberg untuk mengajar matematika. Di tempat itu, dia mulai melakukan berbagai eksperimen hingga kepindahannya ke Berlin pada Maret 1828.

Dengan bantuan peralatan yang dibuat sendiri, Ohm mengemukakan teori bahwa arus listrik yang mengalir melalui kawat sebanding dengan luas penampang dan berbanding terbalik dengan panjang kawat tersebut (segamblang ini pun saya belum paham juga). Ya sudahlah, atas bantuan Mbak Wikipedia, akhirnya saya menyusun kata-kata juga untuk Ohm. Dan beginilah jadinya….

Lelaki Dari Bavaria

Kepada Kawan Suratno Kenthus

musim jatuh
dingin
Johann Wolfgang sedang melukis kunci di sebatang logam
lalu merekah segumpal senyum
sehangat musim dingin, searoma kopi pagi
dari bibir merah Maria Elizabeth
; Istrinya

lantas mereka berbincang
tentang kunci-kunci dan logam
tentang pemintal pembaca nasib dari lentik jari-jari
atau tentang si jabang bayi
sulung yang hikmat menyimak cerita
tentang logam dan kain
menjelang tidur di perut si wanita penjahit

tiba-tiba tahun berganti angka; 1789
George Simon Ohm tertulis di selembar akta kelahiran
orang-orang Bavara mengejeknya
lalu ia melantunkan mantera; per favore.. per favore..
Alessandro Volta pun mengabulkannya
lantas dunia mengangkat bendera
bagi hukum yang lahir dari kepalanya
:ohm

Purwokerto, menjelang Nyepi Maret 2013




Sekedar Puisi Untuk Ibu

By // 11 comments:

Preambule

Sewajarnyalah, selalu ada asumsi; selalu muncul interpretasi. Bagi dua insan yang lama berpisah, dan lama tidak saling bertegur sapa. Masing-masing bertanya pada dirinya sendiri. Mengira-ira, menduga-duga; apa gerangan yang terjadi. Ada kegelisahan, kekhawatiran, kecemburan, bahkan kekecewaan bagi setiap dua insan yang dirundung cinta, serta kerinduan. Itu lazimnya terjadi pada pasangan kekasih. Lalu apa yang mesti dibahasakan jika kegelisahan, kekhawatiran, keriduan, atau bahkan kecintaan anak kepada perempuan yang telah melahirkannya ke dunia serba fana ini?

Seperti diriku sendiri yang lama tak saling berkirim warta, apa lagi menyapa bagi perempuan setengah baya yang telah berjuang antara hidup dan mati melahirkanku ke dunia. Terkadang wajahnya serupa bidadari yang selalu memompa semangat untuk berjuang bertahan hidup. Lain waktu, ia kadang serupa pedang yang telah diasah dan terhunus di pangkal tengkukku. Sekali tebas, hilanglah segalanya. Mengingat, sejauh aku masih dianggap sebagai anaknya, sejauh itu pula aku belum mampu berbakti dengan segenap maknanya. Dan, inilah bahasaku mengungkapkan kerinduan, kecintaan, dan pengharapan kepada sosok perempuan yang ku panggil ibu…   

Aku Tidak Sedang Melupakanmu

aku tidak sedang melupakanmu, bila angin berhembus dari barat
di mana bibir ngarai menganga
menebar kutuk yang kau tiupkan pada setiap pucuk daun kegelisahan
maut yang merapat, menusuk pori-pori

aku hanya tahu, malam segera rebah di sebidang dada siang
di mana ruang dan waktu hanya soal nama belaka
seperti sekuntum doa yang kau siram
dan terus kuciumi selunas-lunas kehausan musafir

aku tidak sedang melupakanmu, jika angin timur tak berhembus ke barat
di mana orang-orang tak tahu apa yang pantas diucapkan
bagi tubuh-tubuh telanjang bernama simulakra
kebaikan dan keburukan beraroma bunga

aku hanya tahu, selalu ada yang ingin ku sembunyikan di sini
di kedalaman cekung mata tua kesilamanmu
selembar kisah tentang seorang nabi
yang membunuh Tuhannya di keramaian pasar
dengan lilin di tangan kiri, sambil berlari dan berteriak
                Got is tot…Got is tot…!

aku tidak sedang melupakanmu, bila tungku ini kedinginan
di mana api, sesekali hanyalah cahaya yang sia-sia
aku hanya sedang menuliskan
struktur kesunyian di setiap urat nadiku
                tapi sunyimu kelewat liar

aku tidak sedang melupakanmu, jika aku tak menuliskan puisi
pada alam yang hikmat dengan kebijaksanaannya
di mana setiap yang bergerak, adalah tanda-tanda yang luput terbaca

aku hanya tahu sabdamu,
adalah maut yang mendekat
di segenap keremangan bising
jisim yang kesepian
                : aku tidak sedang melupakanmu

Purbalingga, 6 Maret 2013
  

Sajak Kesunyianku

By // 16 comments:

Avant-Propos
Dimulai postingan edisi ini dan mungkin edisi-edisi selanjutnya, saya akan menuliskan semacam pra wacana sebelum sobat dapat lebih lanjut membaca puisi-puisi saya. Puisi-puisi yang terangkum dalam Sajak Kesunyianku ini, merupakan refleksi terhadap apa yang saya rasakan selama ini. Entah mengapa saya selalu merasa kesunyian, kesepian, dan kesendirian meski berada di tengah keramaian. Sungguh ini sangat menyiksa saya. Apakah saya mengidap salah satu penyakit jiwa? Semacam skizofrenik atau Indogo? Entahlah! Hanya, dengan meuliskan puisi-puisi ini saya merasa ada. Selamat membaca…

Badai Pagi

sebelum genap membaca matahari
dari barat, angin menghujam
menusuk sunyi di kepalaku
bertulang badai, berlidah pedang

“kapan kau akan selesai memahami janji?”

ada yang pecah di kepadatan langit-langit kamar
orang-orang berburu jawaban
dari kenestapaan masa kanak-kanak
sepekat malam mengajikan lagu-lagu pujian
pada alam dan dirinya sendiri

aku yang bergegas menggali tanah
agar segera dilupakan oleh kenangan
terjaga badai pagi
menagih janji yang belum selesai ku pelajari

Purbalingga, 23 Februari 2013

Mercusuar Sunyi

selebihnya adalah bangunan-bangunan sunyi
memadat pada setiap riwayat jalan yang memanjang di mataku
telah ku tandai sebagai tiang
bagi langit-langit yang lelah berdiri

juga mercusuar sunyi ini
tegak berdiri di pantai-pantai yang lepas di dadaku
riwayatnya adalah nasib yang sedang menyisir takdir
antara hidup atau mati

ku panggil camar dengan telapak tangan
agar pecah sunyi di segenap ombak yang lupa diam

ku selimuti bulan yang kedinginan
agar patah garis-garis sunyi di segenap cahaya

sayang, mercusuar sunyi ini kokoh menghujam
di dasar jantung dengan sedalam-dalamnya palung

lalu apa hendak ku tembangkan?
selain bait sunyi yang sempurna, memilih garis kematian

Purbalingga, 28 Februari 2013

Menghitung Sunyi

sunyi ini lebih jelas ku hitung
ketimbang maut yang berarak di setiap depa tanah
lebih mudah ku simpulkan deritnya
ketimbang kematian yang melengking pada setiap kemarau

lalu apa?
selain sebatang tubuh senyap
dan daun-daun runtuh pada helai keniscayaan
dikepung keramaian yang asing dengan segenap hipokrit di dalamnya
menjamur bagai musim dipagi hari

lantas apa?
selain tragedi yang melumpuri wajah sunyi
dari kesaksian jalan-jalan tak bernama

dan aku semakin sempurna menghitung sunyi
dengan jari-jari nasib yang kian tak ramah
hingga terbaca pada setiap dinding-dinding candi
sebagai pancaran air mata lara

Purbalingga, 28 Februari 2013








Sajak Tak Terbaca

By // 11 comments:

Isyarat Musim
Kepada Sahabat Irma Senja

dan pada setiap hujan yang runtuh di pintu-pintu jantungmu
adalah isyarat musim yang melengking dari riuh sunyi
mungkin kemarau
atau barangkali dingin matahari
bersaksi atas nama air mata

senyum yang kau susun pada gugusan senja
adalah huruf-huruf kelu
rubuh ke tanah bersama tawa yang bertahun-tahun kau timbun
pada sebongkah embun
sebelum siang mencurinya dari dahan-dahan luka menahun di tubuhmu

paragraf-paragraf yang mengalir di setiap sudut bibirmu
adalah nyanyian air yang senantiasa berzikir
diam
seriuh tawa si kecil bertembang hujan di beranda halaman

teruslah menulis, senja?
sebelum huruf menjadi tua
atau sebelum aku berangkat
mencari doa-doa paling mujarab
agar alam sudi mengecap
isyarat musim yang tak terbaca

Purwokerto, menjelang siang beranjak, 2013

Semacam Epilog

"Menulislah dari hatimu,maka kau akan menyentuh hati pembacamu". Demikian katanya dalam profil blognya. Dan aku pun tersentuh. Betapa tidak, coba baca tulisan “Ketika Aku Bicara Pada Hujan di 11 Februari”. Tersirat dan tersurat jelas bahwa tulisan tersebut merupakan bentuk kepasrahan si penulis kepada Tuhan melalui media hujan. Dari sana saya memahami bahwa meski terlihat cantik ragawi laiknya perempuan-perempuan lain, namun sejatinya si penulis ini tidak seperti kelihatannya. Kanker telah menjadi “sahabat” akrab yang sesekali dapat menjadi “musuh” dalam hidupnya. Atau bacalah tulisan hati “Surat Untuk Tiara”. Berbentuk surat kepada Tiara yang berkisah tentang rasa kepercayaan diri bahwa meski si penulis berbaring di salah satu bangsal rumah sakit, namun ia merasa baik-baik saja. Keyakinan, rasa percaya diri, dan doa inilah yang telah membuat si penulis ini menjadi begitu tegar dengan sebenar-benarnya meski dengan segala keterbatasannya.

Ya, dialah Irma Senja. Melalui blog pribadinya di www.irmasenja.com ia hendak berkabar pada dunia khususnya pada sesama penderita kanker bahwa menerima dan hidup dengan apapun kepahitan dan ujian adalah bukan kekalahan, tapi kemenangan sebenarnya.
“Teruslah menulis sahabat?”  
  

Sajak-Sajak Kepada Bapa

By // 3 comments:

Kepada Bapa

Bapa, benar bukan?
Waktu yang kau tiupkan pada rahim ibu,
bukanlah selembaran kertas buku harian seperti yang kau tanam di ingatanku dulu?

Jika memang ia adalah iya, tentu aku mampu mengeja
Seperti nasib yang kau tuliskan pada permulaan halaman

Sayang, waktu adalah tembok-tembok angkuh di sepanjang jalan tak bertuan
Tak lagi ramah. Tak lagi gemah

Bapa, pada halaman berapa mesti ku catat ulang?
Tentang nasib yang tinggal segenggam
Agar kau tak menjadi elang yang kelelahan
Atau agar aku mampu mencium keningmu dihari menjelang senja

Bapa, dengan pena apa mesti ku goreskan?
Sedang nasib ini serupa gambar buram yang gelisah
Dan tak lagi menajam

Sudahlah, Bapa?
Mari kita curi segumpal senyum
Pada langit yang mengerang
Meski malam ini, mimpi enggan menghampiri

Ah, bapa, bapa!

Purbalingga, 1 Februari 2013

Kepada Bapa 2

Kini engkau pulang
Setelah kemarau mengisut pada seribu pintu di keningmu

Hanya senyap seruncing hujan
Dan peluh yang menjerit-jerit di urat nadi
Menyambut pahlawan dengan peluk cium luka

Kepada angin aku merobek doa
Agar senja tetap jingga sebelum malam menghujam

Kepada Tuhan aku kembalikan
Seribu firman yang gagal ku terjemahkan
Agar terbuka matanya yang terpejam
Agar mampu mengeja nasib yang ia rebahkan
Pada sepotong takdir yang penuh luka
di dada kita


Purbalingga, 1 Februari 2013


Kepada Perempuanku, Pahamilah Aku

By // 20 comments:

Bacalah Musim Yang Kau Kecap di Bibirku
Kepada Siti Uswatun Khasanah

Berapa kali telah kau kecap musim yang bergulir di bibirku. Namun, kau belum juga mampu mengeja. Tentang hujan yang melebat dan jatuh di ujung pena. Aku takkan lagi bicara. Sebab kata begitu dangkal bagi palung yang ku gali di setiap permulaan pagi. Belum lagi tentang kesan yang kau pungut dari bibir angin ketika ia lupa jalan untuk pulang.  

Bacalah!

Sekali lagi, sebelum musim benar-benar berganti, bacalah!
Lalu catatankanlah kembali pada selembar talas, atau angsana yang kian meranggas. Tentu kau akan memahami, kecut manis musim yang bergulir di bibirku, adalah doa yang senantiasa mengobati nganga luka di jantungmu

Purbalingga, 22 Januari 2013


Hikayat Batu-Batu Kali

Seketika aku adalah batu yang berziarah di sepanjang kali
Memungut doa yang jatuh pada setiap daun-daun liar
Lalu meniupkannya pada riak sungai yang gelisah

Sebutir kerikil, sebujur batu
Adalah aku yang berselimut lumut
Lebat mengakar ketika musim berganti hujan

Karena aku batu-batu di kali
Menangis dengan isakan yang hikmat
pada sebutir pasir
Lalu rebah di sepanjang kali

Purbalingga, 22 Januari 2013



Cerita Tentang Huruf-Huruf Sunyi

By // 24 comments:

Pada Huruf-Huruf Sunyi Serupa Tiang Pinisi

Aku telah menyebutnya pada huruf permulaan
Serupa tiang pinisi atau jangkar yang lelap bermimpi
Tapi tak ku temukan rupamu di sana
Meski alif dan ya berusia senja di lidahku

Aku kerap mengecupnya
Sebelum pagi atau setelah onani
Tapi tak ku rasakan merah bibirmu
Seperti Muhammad mengjarkannya pada gembala

Aku telah menuliskannya
Pada papan-papan tak bertiang
Serupa ba ta tsa
Tapi aku belum juga mengakrabinya
Meski ranggas jati jatuh pada musimnya

Pada derit sunyi yang kerap kau kecap
Aku ingin mengembalikan huruf-hurufmu
Sebelum aku lenyap
Serupa abu di atas tungku

Purwokerto, 14 Januari 2013

Pada Pagutan Bibirmu Yang Belum Selesai

Pada pagutan bibirmu yang belum selesai
Aku lupa mencatatkan pada ingatan
Sepotong doa yang kau tabung pada embun

Ia kini berwajah sunyi
Merupa angin yang lupa jalan untuk pulang

Pada pagutan bibirmu yang belum selesai
aku ingin bertamu di kamarmu
membaca-baca buku
atau sekedar membiasakan namamu di lidahku

pada pagutan bibirmu yang belum selesai
sampaikanlah sujudku pada segenap arah
sebelum kau benar-benar lupa
segumpal jasad yang lahir dari rahim namamu

Purwokerto, 14 Januari 2013


Episode Menangisi Sunyi

By // 16 comments:

Selalu Saja Aku Adalah Sunyi Yang Jatuh Dari Matamu

Selalau saja aku adalah sunyi yang jatuh dari matamu. Seperti ombak yang mati ketika karang mengerang. Selaksa pasir yang letih berdesir sebelum doa yang kau bungkus dengan kulitmu lenyap ditelan angin.

Jalan ini tak lagi jujur. Tak lagi mujur.

Kepada apa mesti aku berterus terang. Perihal lalu lalang jejak yang ku simpan di sepanjang jalan. Hidup terlanjur berwajah angkuh. Dan musim tak lagi lazim bergulir di ceruk matamu. Kau berkata; aku percaya pada daun-daun yang setia meranggas pada waktunya. Juga matahari yang sudi berganti dengan bulan telanjang. Atau hujan yang kerap menetas di jantungku sebelum musim berganti.

Lantas, kenapa selalu saja aku adalah sunyi yang jatuh dari matamu?

Purwokerto, 11 Januari 2013


Mengemasi Nasib

Seperti yang ku bilang sebelum kita berciuman dulu, waktu tak pernah jujur bercerita. Tentang alamat hujan yang pernah kita tanyakan kepadanya. Seperti yang kita bilang sebelum kau memagut bibirku, timur dan barat tak lagi setia. Tak lagi serupa belati bermata dua.

Mari kita kemasi saja. Dengan kain putih atau kerudung hitam sebelum kau melumat mataku. Sebujur nasib yang tak bernama. Selaksa buih yang letih menari di pasir putih. Lalu kita gali tanah sedalam akar. Agar ia mekar menjadi daun yang setia menabung luka. Kemudian mari sama-sama berdoa; “Requiem Aeternam Deo”    
  
Purwokerto, menjelang 11 Januari 2013

Sajak-Sajak Sunyi

By // 12 comments:
Pada Rubaiyatmu Aku Jatuh

Derit tangis di daun pintu itu adalah rubaiyat sunyi yang pernah kau tuliskan pada matahari. Aku ingin mengeja dengan huruf-huruf yang lengang. Dengan kalimat yang pernah kau lumat ketika langit membisu.

Sepenggal jejak angin runtuh. Aku jatuh. Lidah mengeluh. Puisimu belum juga mampu ku unyah. Aku menyerah.

Lantas ku bisikan kata pada rembulan telanjang di jantungmu. Agar bintang berbinar selaksa angin utara yang nanar. Agar rubaiyat tersayat di tanah dengan senyum merupa liat. Kata demi kata kemudian telanjang. Ku punguti tubuhnya yang berselimut sunyi mewujud makna yang pernah singgah pada langit tak bertiang.

Kepada semesta ku lantunkan salam. Sebelum jasadku berbujur putih, dan pulang bersama angin utara yang gelisah

Purwokerto-Purbalingga, Menjelang Manghrib Januari 2013


Aku Ingin Sunyi Mati Dengan Sebenar-benarnya

Ceritakanlah kepada angin. Tentang sunyi yang hinggap pada daun-daun tua. Pada mimpi-mimpi yang kesumat di malam pekat. Pada puisi yang mengubun di ubun-ubun. Engkau tau, ingatanku merupa purba. Mewujud batu yang melumut. Diam dan penuh dendam.

Atau kisahkanlah sejenak. Mimpi yang pernah singgah. Pada ilalang yang tengadah ketika bumi berkata lelah.  

Atau barangkali tentang Tuhan. Yang pernah kita lukis wajahnya di sebidang pasir tua. Sebelum riak melumat segalanya.

Sungguh, aku ingin menjadi sepohon kayu angsana. Atau sebujur pohon kencur. Atau apalah. Agar sunyi mati dengan sebenar-benarnya.

Purwokerto-Purbalingga, Setelah Azan Berkumandang Januari 2013

Puisi di Ubun-ubun Rumah Sunyi

By // 11 comments:

Kepada Dzikir Yang Pecah di Batu

Doa ini terasa purba
Melumut pada setiap aliran sungai di mataku
Telah lama kau ajari kami
Segenggam kata yang tertulis di buku suci

Sepertinya engkau lupa mencatatkan nasib
Pada halaman pertama atau juz berikutnya
Padahal aku adalah angin yang lupa jalan untuk pulang

Maka, kami kemasi saja
Doa dan kata yang pernah kami pelajari dari buku suci
Sebab, nasib adalah wajah sunyi yang tak pernah jujur pada dirinya
Serupa  dzikir yang pecah di batu

Kematian akan terus hidup
Sedang mimpi kami adalah luka melegam
Pada malam yang tak pernah terpejam

Purwokerto, Januari 2013

Biografi Tuhan

Matamu, sesekali adalah bidadari. Di lain kali, adalah terik luka. Seperti sekerat pagi yang gelisah ini, kau tiupkan angin pada ubun-ubun embun. Membuncah dan jengah di jalan-jalan tak bernama. Sekali itu saja aku menggambar matamu serupa lamuk yang teduh. Memadangi purnama di tengah bulan. Menjaga langit-langit yang tak pernah bertiang. Dan seterusnya, adalah gambar pekat yang tak terbaca. Sebagaimana aku menamakan namamu Tuhan.

Purwokerto, Januari 2013

Serupa Sajak Kepada Istri Tercinta

By // 14 comments:

Sekelebat Hujan Yang Sangsi
               
Akan ku paparkan kepada sunyi, tentang arus sepanjang kali yang lahir dari jantungmu. Engkau belum juga mengerti selimut angin yang ku kenakan setiap malam, ketika kelopakmu terpejam. Aku takkan memaksakan langit yang hamil mendung agar menggugurkan hujan. Sebab, jalan ini masih kelewat panjang. Dan seperti yang kita pelajari dari buku suci, kita tak akan mengerti di mana jalan ini berhenti. Jika seketika lembut pipimu basah, aku akan mengutuk sekelebat hujan yang sangsi.

Bacalah akar lumut yang setia mengakar pada setiap batu cadas di beranda halaman. Kemudian tuliskan pada selembar kain putih sebelum sempurna diselimuti dangka. Pahamilah kekasih, sunyi barangkali akan bertutur tentang huruf-huruf yang berserakan ketika tanaganmu gigil tak mampu mengail. Dan seterusnya kau akan tahu bahwa aku adalah sunyi yang mengajak tanganmu tengadah ketika luka begitu nganga.

Purwokerto, tanggal sekian Januari 2013


Hikayat Sepasang Mata Bulat Yang Menahi di Wajahmu

Kekasih, sepertinya engkau lupa
Sajak terahir yang ku tulis di halaman pertama
Jika lidahmu beku, mintalah kepada rumpun perdu
Sekisah rindu yang ku tutur dari segumpal ngilu

Engkau tahu, malam-malamku adalah sunyi mendendam
Pada adam yang memperkosa hawa
Ketika bidadari tak mencukupkan birahinya

Karena itu aku merayu
Dengan sajak yang ku pungut dari peluh
Serupa hikayat mata bulat yang menahi di wajahmu

Purwokerto, menjelang siang beranjak setengah Januari 2013

Sepenggal Mimpi di Negeri Dongeng

By // 2 comments:

Suatu malam, seorang perempuan menyadari dirinya berada di tengah lautan. Jauh di ujung pandang, gulungan ombak saling berkejaran. Rambutnya tak pernah diam ditelan angin yang memekakan telinga. Gugusan bintang berbentuk singa membuat ia kagum pada dirinya sendiri. Ingatannya melayang pada kisah orang-orang yang bertarung melawan badai, dan memenangkan pertarungan itu dengan hadiah beribu-ribu penghuni lautan. Lalu membawanya ke daratan sebagai lambang keperkasaan, atau simbol kehebatan memenangi nasib. Ia bersykur terlahir dari rahim nenek moyang pelaut.

Ia terus mengayuh dayung. Sesekali perahunya miring ke kiri, dan ke kanan menjadi permainan ombak. Kini ia seksama, merasakan kehebatan nenek moyangnya. Betapa tidak, ia kelihatan perkasa berada di tengah lautan seluas ini, meski ia menyadari bahwa hidup dilautan tak ada kemungkina lain selain dua kemungkinan; menang sebagai pahlawan, atau mati ditelan lautan.

Namun sebagai perempuan, ia tak dapat memungkiri kenyataan. Kepergiannya menyeberangi lautan adalah pekerjaan yang menyakitkan. Malam seperti ini, seharusnya dia sedang membacakan dongeng tentang semut dan belalang kepada anaknya. Atau menyuguhkan secangkir kopi setengah pahit kepada suaminya. Keberaniannya menyeberangi lautan bukan didorong oleh kekagumannya kepada nenek moyang semata, namun lebih karena persoalan nasib. Demi nasib hidup yang lebih baik.

Bagaimanapun, ia bukan seorang pelaut. Namun untuk memenangi pertarungannya dengan nasib di daratan, ia mesti wajib memenangkan pertarungannya melawan badai. Sebab, kata orang, diujung lautan ini ada sebuah daratan dimana ia dapat memenangi pertarungan melawan nasib. Menurut orang-orang, nasib di daratan yang ia pijak selama ini buruk. Kebutuhan hidup melambung tinggi. Upah kerja tak sepadan. Belum lagi para penagih hutang yang kerap meneror. 

“Kata orang?” Ia berhenti mengayuh dayung sejenak, membatin; benarkah keperkasaannya menyeberangi lautan luas ini hanya untuk memenangi nasib yang kata orang lebih baik? Apakah selama ini nasibnya tidak baik? Bukankah suami dan anaknya masih bisa makan dari hasil ia menanam ubi dan singkong, dan bukankah itu nasib baik baginya?

Keraguan hampir membuat perahunya tenggelam. Petanyaan-pertanyaan yang datang tiba-tiba itu semakin menggoda. Namun, ia bertekad akan menyimpannya terlebih dahulu soal nasib yang lebih baik di lubuk hatinya. Baginya, kini, pertarungan masih harus terus berlanjut. Dia harus menang melawan ombak dan badai yang bisa datang sewaktu-waktu. Jika kalah, tentu nenek moyangnya akan tertawa, atau bahkan menangisi cucunya yang tercatat dalam lembar sejarah sebagai cucu seorang pelaut yang mati ditelan laut.

Bulan bundar. Meski samar, matanya sanggup memandang warna laut. Hitam bercampur kuning keemasan. Disamping warna laut, kini ia terhibur oleh bayangannya sendiri. Dari tengah perahunya, ia dapat memandangi segi tiga bersayap di atas air. Lebih mirip seekor elang yang gagah mengepakan sayapnya di udara. Ia merasa perkasa. Tubuh dan perahunya, kini adalah elang yang perkasa dengan kepak sayapnya yang menghempas, membuat ia semakin semangat mengayuh dayung menantang ombak.
Nenekku seorang pelaut! Tapi mungkinkah seorang pelaut tidak mengisi perutnya dikala lapar? Mungkinkah seorang pelaut tidak merasa haus setelah berhari-hari mengayuh dayung? Ia kini butuh makan. Butuh minum. Butuh mimpi. Pada ombak yang tidak begitu deras, ia serahkan kapal sejenak untuk jadi permainannya. Ia akan makan. Akan minum, lalu tidur sejenak. Sejenak saja, batinnya, menyerahkan nasib pada ombak. Dengan lahap, ia menyantap bekal makanan secukupnya. Lalu minum, kemudian tidur. Sejenak saja!

Ia bermimpi tentang fajar berwarna jingga. Suami dan anaknya berkejaran di pematang sawah milik orang. Ia berkata pada dirinya, ini nasibku, bukan nasib orang lain. Aku bahagia dengan nasib ini. Lalu kenapa aku mesti harus menyebarangi lautan menuju daratan yang kata orang menyimpan nasib lebih baik? Aku tak habis fikir. Kenapa harus orang lain, yang menggariskan nasib baik atau buruk seseorang? Nasibku baik. Tapi kenapa menurut orang lain nasibku buruk, sehingga aku harus menyeberangi lautan ini?

Matanya terbuka. Langit jingga, laut jingga. Fajar telah tiba. Namun tak ia temui suami dan anaknya. Juga tak ia dapati pematang sawah milik orang. Hanya tubuhnya terlentang ditindih langit berwarna jingga. Ia terjaga. Ia telah bermimpi. Tapi syukurlah, ia tidak bermimpi ombak memenangi pertarungan dan meluluh-lantahkan perahunya. Ia masih hidup. Masih memenangi nasibnya, meski sejenak.

Ia duduk. Tangannya meraih gagang dayung, lalu mengayuhnya. Ingatannya kembali melayang pada sebuah daratan di ujung lautan ini, yang kata orang menyimpan nasib lebih baik. Menurut orang, di daratan itu tidak ada pematang sawah. Tidak tumbuh ubi dan singkong, juga rerumputan. Di sana hanya ada tanah-tanah berdebu, jalan-jalan yang mulus, dan gedung-gedung pencakar langit. Juga tidak ada orang yang jalan kaki. Mereka berjalan menggunakan kotak segi empat yang bermesin dengan keceptan yang luar biasa. Di sana, kata orang, juga ada burung elang raksasa dimana kalau ia menaikinya, ia akan benar-benar menjadi seekor elang. Dan tentu, ada nasib yang lebih baik.

Baiklah, benaknya, aku akan ke sana. Aku ingin naik di atas punggung elang raksasa. Aku ingin merasakan duduk di dalam kotak segi empat dengan kecepatan yang luar biasa. Juga ingin bermimpi di dalam gedung-gedung pencakar langit, serta menikmati jalan-jalan mulus itu. Dan tentunya, ingin memiliki nasib yang lebih baik.

Matahari semakin naik. Tangannya kian perkasa setelah sejenak tadi menyantap bekal makanannya. Daratan oh daratan, tekadnya, pasti aku akan menemukanmu!. Matahari di atas kepala. Matanya tak lagi mendapati segi tiga bersayap seperti tadi malam. Dirinya kini nampak seperti tanda titik yang bergerak. Kecil, dan terasa lamban. Ia merasa seperti setitik riak ombak di tengah lautan. Ia mengusap matanya. Hampir tak percaya. Gulungan ombak mengepungnya. Ia semakin kecil, terus mengecil. Sementara sebuah tembok raksasa siap melahapnya.

Elang itu melayang-layang di udara. Suaranya yang bergemuruh, membuat ia terjaga. “Hai elang, tunggu aku. Aku ingin naik di atas punggungmu!” suaranya kalah oleh suara gemuruh. Tangannya bergerak-gerak mencari gayung. Namun air laut itu terasa seperti keras daratan. Ia sadar. Ia telah memenangkan pertarungan melawan ombak. Dan kini, ia mendarat, dengan puing-puing perahu tak jauh darinya. Ia berdiri. Matanya nanar menangkap apapun yang ada di depannya. Jalan-jalan mulus, gedung-gedung pencakar langit, kotak-kotak yang melesat. Dan, nasib yang lebih baik? Dimana dia?
Ia berlari menuju gedung-gedung pencakar laingit. Di daratan ini, pematang sawah berubah menjadi trotoar. Dan orang-orang berubah menjadi patung yang bergerak. Ia terus berjalan. Sesekali bertanya kepada patung-patung yang berjalan itu, perihal jalan terdekat menuju gedung yang atapnya hampir menyentuh langit. Namun patung-patung itu tak menjawab. Ia putuskan untuk mencari jalan sendiri.

Sampailah ia di depan gedung setinggi langit. “Aku mencari nasib yang lebih baik di daratan ini. Dimana dia?”
“Kebetulan, aku mencari orang-orang yang mencari nasib baik di sini” lelaki bertubuh gempal itu menimpali sang pencari nasib.

Lalu kata si gempal, sang pencari nasib diminta untuk membersihkan jendela kaca seluruh gedung. Demi mencari nasib yang lebih baik, si perempuan itu rela membersihkan kaca-kaca yang tampak kusam.

Hari pertama, ia hanya mampu membersihkan kaca jendela lantai satu. Hari kedua, ia mampu mengelap kaca jendela di lantai dua. Hari ketiga, ia mampu membersihkan kaca jendela di lantai lima. Hari selanjtunya, ia tengah bertengger di kaca jendela lantai sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Satu lantai lagi, pekerjaannya akan selesai, dan berharap dapat bertemu dengan nasib yang lebih baik.

“Aku benar-benar di atas langit. Gedung ini hampir menyentuh langit!” benaknya. Mukanya berkeringat. Jari-jarinya mengkilat. Pembersih kaca di tangan kirinya terjatuh. Kakinya gemetar. Tubuhnya bergetar. Ia merasa meluncur deras ke bawah langit. Daratan bergetar. Membuat orang-orang dikejutkan oleh semacam gerakan gempa. Lalu berlari mengerumuni tubuh perempuan yang penuh darah, dan sebagain anggota tubuhnya terpisah.

Di dekat nisannya, aku mereka-reka ahir dongeng negeri dongeng dari mama. Kemungkinan seperti ini; nasib baik itu ahirnya tak dapat mama temukan. Nasib baik itu kemungkinan ditemukan oleh orang-orang yang membuat kapal yang dibeli mama untuk menantang ombak lautan menuju daratan dimana kata orang ada nasib baik di sana. Atau mungkin seperti ini; neneku seorang pelaut. Lalu mati ditelan lautnya sendiri!

Kepada Para Pahlawan Devisa
Purwokerto, Januari 2013
Meet The Author

I'm Chandeep J, An 18 years old blogger Currently living in Tamil Nadu, India. I'm a Skilled Blogger, web Developer and Loves to play with Codes And Creating new things as a web Designer.

author