Sepotong Sajak Getir Buat Istriku

By // 7 comments:

Prolog

Bahwa hidup itu sejatinya tak semudah seperti apa yang dipaparkan dalam sebentuk teori. Ia adalah rahasia yang tak mudah untuk ditebak atau bahkan dilukis sejak manusia masih berada di dalam kandungan. Apa-apa yang dituangkan dan ditayangkan serta di khutbahkan dalam setiap ibadah, tak lain hanyalah cara bagi si pengkutbah untuk melanjutkan atau bertahan hidup. Nasib dan takdir telah digariskan pada setiap garis tangan manusia. Tertawalah karena mungkin hari ini nasib berwajah ramah. Maka menangislah karena mungkin takdir luput kita baca esok hari.

Lantas apa yang mesti kita ejawantahkan istriku? Apakah sebentuk puisi ini juga adalah salah satu takdir yang di gariskan ditangan kita? Ooh…andai Tuhan memberikan apa yang kita minta, bukan memberikan apa yang kita butuhkan, maka aku tidak akan menuliskan sebentuk sajak di bawah ini. Tetapi Tuhan adalah Tuhan, dan kita hanya manusia. Karena itu istriku, simaklah nyanyian puisi sumbang yang lahir dari getir langit-langit jantungku…


Tetapi Inilah Hidup, Istriku?
bagi istriku

tetapi inilah hidup, istriku?
sepuluh jari tangan kita takkan mampu menghitung gugusan bintang
meski ingatan begitu sempurna membaca
desau angin yang berderit lewat jendela

kita pernah belajar pada alam
sebait doa yang lahir dari ladang tandus
sebelum gerimis melumat aroma debu yang kita sanjung

tetapi inilah hidup, istriku?
sering kali ia sungkan berkata jujur pada dirinya
seperti yang pernah kita susun di atas pasir telanjang
dan musnah ditelan ombak seketika

tetapi inilah hidup, istriku?
senyum dan hujan adalah bunga-bunga
yang kita siram ketika pagi menghampiri
lalu layu seketika dilumat matahari

lantas apa lagi, istriku?
selain takdir yang tak bisa kita tawar
meski doa kerap kita hamburkan ke udara
namun sepertinya langit tengah tuli
dan halaman-halaman buku kita kian berkurang
: tetapi inilah hidup, istriku?

 Purwokerto, 13 Maret 2013

Semacam Puisi Untuk Sahabat

By // 6 comments:

Pra Kata

Saya punya seorang teman bernama Kang +Suratno Kenthus. Seorang blogger asli Gandrung, Cilacap. Suatu hari dia bertanya; “Mana puisi-puisimu tentang elektronika?”. Aku pun menjawab; “Tunggu saja kang, pasti segera dapat dibaca”. Maklumlah, blogger yang satu ini punya hobi utak-atik barang yang berbau listrik dan elektronika, dan dituangkan di blogelektronikadi.blogspot.com, sekaligus sebagai ruang kerjanya.

Saya bukan seorang penyair. Bukan pula seorang sastrawan. Sekali lagi, bukan sama sekali. Saya hanya pecinta kata-kata. Merangkainya, lalu ku susun dalam bentuk puisi. Itu pun yang berkait dengan sosial humaniora. Memenuhi tantangan kang Suratno Kenthus (tapi saya percaya orangnya tidak kementhus) adalah hal yang baru. Sekaligus sangat kesulitan menyusuk kata-kata menjadi sebentuk puisi dengan tema eksak semacam listrik, solder, ataupun resistor (karena, dalam sejarah pelajaran matematika, saya selalu mendapat nilai dua).

Lalu saya bertanya pada Mba Wikipedia. Bertemulah saya dengan Georg Simon Ohm (saya yakin Kang Suratno Kenthus paham betul tokoh yang satu ini). Ya, menurut Mbak Wikipedia, Georg Simon Ohm adalah seorang fisikawan Jerman yang banyak mengemukakan teori di bidang elektrisitas. Karya fenomenalnya adalah teori mengenai hubungan antara aliran listrik, tegangan, dan tahanan konduktor di dalam sirkuit, yang umum disebut Hukum Ohm.

Masih menurut Mbak Wikipedia, Georg Ohm dilahirkan oleh pasangan Johann Wolfgang Ohm, seorang tukang kunci, dan Maria Elizabeth Beck, seorang penjahit. Walaupun ayahnya hanya sebagai tukang kunci, namun dia mampu memberikan pendidikan yang tinggi bagi anak-anaknya. Pada tahun 1805, Ohm masuk ke Universitas Erlangen namun keluar di semester ketiga dan kemudian menjadi pengajar matematika di sekolah Gottstadt bei Nydaud, Swiss. Pada Maret 1809 ia menjadi guru privat di Neuchâtel. Atas nasihat dari Karl Christian von Langsdorf, dia kembali melanjutkan studi di bidang matematika dan pada April 1811, dia kembali ke Universitas Erlangen.

Pada 25 Oktober 1811, Ohm memperoleh gelar doktor di bidang matematika dari Erlangen dan bergabung sebagai staf dosen matematika. Menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak memiliki prospek bagus, maka dia meninggalkan pekerjaan tersebut dan menerima tawaran pemerintah Bavaria sebagai guru matematika dan fisika di sebuah sekolah berkualitas rendah di Bamberg pada Januari 1813. Pada Februari 1816, sekolah tersebut ditutup dan pemerintah Bavaria mengirimnya ke sekolah yang penuh sesak di Bamberg untuk mengajar matematika. Di tempat itu, dia mulai melakukan berbagai eksperimen hingga kepindahannya ke Berlin pada Maret 1828.

Dengan bantuan peralatan yang dibuat sendiri, Ohm mengemukakan teori bahwa arus listrik yang mengalir melalui kawat sebanding dengan luas penampang dan berbanding terbalik dengan panjang kawat tersebut (segamblang ini pun saya belum paham juga). Ya sudahlah, atas bantuan Mbak Wikipedia, akhirnya saya menyusun kata-kata juga untuk Ohm. Dan beginilah jadinya….

Lelaki Dari Bavaria

Kepada Kawan Suratno Kenthus

musim jatuh
dingin
Johann Wolfgang sedang melukis kunci di sebatang logam
lalu merekah segumpal senyum
sehangat musim dingin, searoma kopi pagi
dari bibir merah Maria Elizabeth
; Istrinya

lantas mereka berbincang
tentang kunci-kunci dan logam
tentang pemintal pembaca nasib dari lentik jari-jari
atau tentang si jabang bayi
sulung yang hikmat menyimak cerita
tentang logam dan kain
menjelang tidur di perut si wanita penjahit

tiba-tiba tahun berganti angka; 1789
George Simon Ohm tertulis di selembar akta kelahiran
orang-orang Bavara mengejeknya
lalu ia melantunkan mantera; per favore.. per favore..
Alessandro Volta pun mengabulkannya
lantas dunia mengangkat bendera
bagi hukum yang lahir dari kepalanya
:ohm

Purwokerto, menjelang Nyepi Maret 2013




Sekedar Puisi Untuk Ibu

By // 11 comments:

Preambule

Sewajarnyalah, selalu ada asumsi; selalu muncul interpretasi. Bagi dua insan yang lama berpisah, dan lama tidak saling bertegur sapa. Masing-masing bertanya pada dirinya sendiri. Mengira-ira, menduga-duga; apa gerangan yang terjadi. Ada kegelisahan, kekhawatiran, kecemburan, bahkan kekecewaan bagi setiap dua insan yang dirundung cinta, serta kerinduan. Itu lazimnya terjadi pada pasangan kekasih. Lalu apa yang mesti dibahasakan jika kegelisahan, kekhawatiran, keriduan, atau bahkan kecintaan anak kepada perempuan yang telah melahirkannya ke dunia serba fana ini?

Seperti diriku sendiri yang lama tak saling berkirim warta, apa lagi menyapa bagi perempuan setengah baya yang telah berjuang antara hidup dan mati melahirkanku ke dunia. Terkadang wajahnya serupa bidadari yang selalu memompa semangat untuk berjuang bertahan hidup. Lain waktu, ia kadang serupa pedang yang telah diasah dan terhunus di pangkal tengkukku. Sekali tebas, hilanglah segalanya. Mengingat, sejauh aku masih dianggap sebagai anaknya, sejauh itu pula aku belum mampu berbakti dengan segenap maknanya. Dan, inilah bahasaku mengungkapkan kerinduan, kecintaan, dan pengharapan kepada sosok perempuan yang ku panggil ibu…   

Aku Tidak Sedang Melupakanmu

aku tidak sedang melupakanmu, bila angin berhembus dari barat
di mana bibir ngarai menganga
menebar kutuk yang kau tiupkan pada setiap pucuk daun kegelisahan
maut yang merapat, menusuk pori-pori

aku hanya tahu, malam segera rebah di sebidang dada siang
di mana ruang dan waktu hanya soal nama belaka
seperti sekuntum doa yang kau siram
dan terus kuciumi selunas-lunas kehausan musafir

aku tidak sedang melupakanmu, jika angin timur tak berhembus ke barat
di mana orang-orang tak tahu apa yang pantas diucapkan
bagi tubuh-tubuh telanjang bernama simulakra
kebaikan dan keburukan beraroma bunga

aku hanya tahu, selalu ada yang ingin ku sembunyikan di sini
di kedalaman cekung mata tua kesilamanmu
selembar kisah tentang seorang nabi
yang membunuh Tuhannya di keramaian pasar
dengan lilin di tangan kiri, sambil berlari dan berteriak
                Got is tot…Got is tot…!

aku tidak sedang melupakanmu, bila tungku ini kedinginan
di mana api, sesekali hanyalah cahaya yang sia-sia
aku hanya sedang menuliskan
struktur kesunyian di setiap urat nadiku
                tapi sunyimu kelewat liar

aku tidak sedang melupakanmu, jika aku tak menuliskan puisi
pada alam yang hikmat dengan kebijaksanaannya
di mana setiap yang bergerak, adalah tanda-tanda yang luput terbaca

aku hanya tahu sabdamu,
adalah maut yang mendekat
di segenap keremangan bising
jisim yang kesepian
                : aku tidak sedang melupakanmu

Purbalingga, 6 Maret 2013
  

Sajak Kesunyianku

By // 16 comments:

Avant-Propos
Dimulai postingan edisi ini dan mungkin edisi-edisi selanjutnya, saya akan menuliskan semacam pra wacana sebelum sobat dapat lebih lanjut membaca puisi-puisi saya. Puisi-puisi yang terangkum dalam Sajak Kesunyianku ini, merupakan refleksi terhadap apa yang saya rasakan selama ini. Entah mengapa saya selalu merasa kesunyian, kesepian, dan kesendirian meski berada di tengah keramaian. Sungguh ini sangat menyiksa saya. Apakah saya mengidap salah satu penyakit jiwa? Semacam skizofrenik atau Indogo? Entahlah! Hanya, dengan meuliskan puisi-puisi ini saya merasa ada. Selamat membaca…

Badai Pagi

sebelum genap membaca matahari
dari barat, angin menghujam
menusuk sunyi di kepalaku
bertulang badai, berlidah pedang

“kapan kau akan selesai memahami janji?”

ada yang pecah di kepadatan langit-langit kamar
orang-orang berburu jawaban
dari kenestapaan masa kanak-kanak
sepekat malam mengajikan lagu-lagu pujian
pada alam dan dirinya sendiri

aku yang bergegas menggali tanah
agar segera dilupakan oleh kenangan
terjaga badai pagi
menagih janji yang belum selesai ku pelajari

Purbalingga, 23 Februari 2013

Mercusuar Sunyi

selebihnya adalah bangunan-bangunan sunyi
memadat pada setiap riwayat jalan yang memanjang di mataku
telah ku tandai sebagai tiang
bagi langit-langit yang lelah berdiri

juga mercusuar sunyi ini
tegak berdiri di pantai-pantai yang lepas di dadaku
riwayatnya adalah nasib yang sedang menyisir takdir
antara hidup atau mati

ku panggil camar dengan telapak tangan
agar pecah sunyi di segenap ombak yang lupa diam

ku selimuti bulan yang kedinginan
agar patah garis-garis sunyi di segenap cahaya

sayang, mercusuar sunyi ini kokoh menghujam
di dasar jantung dengan sedalam-dalamnya palung

lalu apa hendak ku tembangkan?
selain bait sunyi yang sempurna, memilih garis kematian

Purbalingga, 28 Februari 2013

Menghitung Sunyi

sunyi ini lebih jelas ku hitung
ketimbang maut yang berarak di setiap depa tanah
lebih mudah ku simpulkan deritnya
ketimbang kematian yang melengking pada setiap kemarau

lalu apa?
selain sebatang tubuh senyap
dan daun-daun runtuh pada helai keniscayaan
dikepung keramaian yang asing dengan segenap hipokrit di dalamnya
menjamur bagai musim dipagi hari

lantas apa?
selain tragedi yang melumpuri wajah sunyi
dari kesaksian jalan-jalan tak bernama

dan aku semakin sempurna menghitung sunyi
dengan jari-jari nasib yang kian tak ramah
hingga terbaca pada setiap dinding-dinding candi
sebagai pancaran air mata lara

Purbalingga, 28 Februari 2013








Meet The Author

I'm Chandeep J, An 18 years old blogger Currently living in Tamil Nadu, India. I'm a Skilled Blogger, web Developer and Loves to play with Codes And Creating new things as a web Designer.

author